Hukum yang Terutama
  • Post category:Artikel

Penulis : Pdm. Hiruniko R. Siregar, M.Th

Matius 22:36-40
“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mat. 22:36)

Atas pertanyaan ini, Yesus memberikan tanggapan langsung: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”. Ini merupakan kutipan dari Ul. 6:5. Ul. 6:5 merupakan bagian dari perkataan Yahweh kepada Musa yang adalah kredo orang-orang Israel. Ay. 6 kemudian memberikan perintah Allah kepada Musa untuk memerintahkan orang-orang Israel mengajarkan firman-Nya kepada anak-anak mereka (6:6-9). Dengan kata lain, melakukan perintah Allah bagi bangsa Israel harus didasarkan pada kasih kepada Allah. Kasih kepada Allah menjadi dasar atau pondasi bagi ketaatan kepada Taurat. Kasih haruslah menjadi dasar bagi kita dalam melakukan segala sesuatu (Kol. 3:23). Kasih juga adalah kegenapan hukum taurat (Roma 13:10). Bila kasih itu memenuhi hukum, pastilah kuk perintah itu akan terasa sangat mudah.

Jawaban Tuhan: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” dalam versi Markus 12:28-34 ditambah dengan ‘segenap kekuatanmu’. Ini merupakan 4 saluran dalam mengasihi Allah. 4 saluran berbicara keseluruhan eksistensi atau keberadaan manusia: hati (kehendak), jiwa (emosi dan perasaan), akal budi (daya nalar, pengetahuan, kecerdasan) dan kekuatan (fisik). Mengasihi Allah berarti mengasihi-Nya dengan seluruh keberadaan kita.

Inilah juga yang dimaksud Paulus, jika kita mengasihi Tuhan, maka hendaklah kita mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati (Roma 12:1). Jadi bukan hanya berdasarkan hukum, rutinitas keagamaan, maupun tradisi, tapi yang menjadi dasar semua itu adalah kasih kepada Allah, “bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (soli Deo gloria – Roma 11:36).

Yesus kemudian menyatakan bahwa ini adalah hukum yang pertama dan terutama. Mengasihi Allah, bagi Yesus, adalah pondasi bagi segala sesuatu. Mengasihi Allah harus di depan, dan segala-galanya. Ketika Yesus menyatakan bahwa itu adalah hukum yang pertama dan terutama, dalam bahasa Yunani ditulis: αὕτη ἐστὶ πρώτη καὶ μεγάλη ἐντολή. Kata yang digunakan bukanlah Taurat melainkan entole atau perintah atau ketetapan. Jika melihat atau memahami Taurat sebagai segala kumpulan hukum atau peraturan, maka mengasihi Allah sebagai entole merupakan dasar dari semua hukum atau peraturan Yahudi.

Kemudian ay. 39 Yesus menjelaskan perintah yang kedua dan yang sama, dalam bahasa Yunani ditulis: δευτέρα δὲ ὁμοία αὐτῇ·, terjemahannya adalah: yang kedua dan yang sama, sejenis dengan itu. Dengan kata lain, mengasihi sesama tidak lebih rendah daripada mengasihi Allah. Kedua hal ini dengan demikian tidak boleh dipertentangkan. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah sama atau sejenis. Itu berarti mengasihi Allah dan mengasihi manusia adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Ia seperti dua sisi dari satu mata uang/koin. Mengasihi sesama dengan kata lain menjadi semacam batu uji atau indicator apakah seseorang mengasihi Allah atau tidak. Karunia tanpa kasih juga menjadi sia-sia. (1 Kor. 13:1-3)

Dua perintah tadi, mengasihi Allah dan mengasihi sesama, kemudian ditegaskan oleh Yesus sebagai dasar dari semua Taurat dan Kitab para Nabi. Istilah Taurat dan Kitab para Nabi, sebetulnya Yesus hendak merujuk kepada Alkitab orang-orang Yahudi saat itu, yaitu Tanakh. Tanakh baru disahkan pada tahun 90/100 M pada sidang di Jamnia dengan jumlah dan ragam kitab seperti Perjanjian Lama kita. Pada era Yesus hidup sebagai manusia di bumi, Tanakh belum disahkan sehingga cair. Khetuvim belum
dianggap lengkap. Dengan kata lain, yang Yesus maksudkan adalah bahwa Perjanjian Lama didasarkan atau inti ajaran Perjanjian Lama adalah mengasihi Allah dan mengasihi sesama.

Kasih adalah dasar dari semua hukum dan ketetapan Tuhan.

Bahan pendalaman:

  1. Apa saja 4 saluran dalam mengasihi Allah?
  2. Mengapa karunia tanpa kasih menjadi sia-sia?

Sumber : Renungan Harian – Anggur Baru BPH GBI