You are currently viewing Seruan Doa Bagi Bangsa Indonesia dan Revival
  • Post category:Berita

JAKARTA – Sinode Gereja Bethel Indonesia melangsungkan acara Seruan Doa bersama untuk Indonesia maupun dunia yang bertempat di Graha Bethel, Lt. 3, Jakarta, pada Selasa (10/3). Acara diikuti oleh sekitar 335 orang hamba Tuhan GBI se-Indonesia baik secara onsite (95 orang) maupun online (240 orang).

Hadir secara onsite, pimpinan dan karyawan BPP GBI serta 4 BPD GBI (DKI Jakarta, Bekasi, Banten dan Jawa Barat). Tampak para petinggi GBI, Pdt. Himawan Leenardo (Sekretaris Umum BPP GBI), Pdt. dr. Eunike S. Mesach (Sekretaris 3 BPP GBI), Pdt. Satrya (Ketua BPD Jawa Barat), dt. Elisabeth M. Manik (Ketua BPD Banten), Pdt. Maringan Tampubolon (Sekretaris BPD DKI Jakarta), Pdt. Dora Kansil (Gembala GBI Graha Bethel Mt. Hermont), dll. Sedangkan yang hadir secara online, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham (Ketua Umum BPP GBI) dan para hamba Tuhan GBI dari Ibukota maupun berbagai daerah. 

Doa diawali dengan Praise and Worship yang dipimpin langsung oleh Pdt. Himawan Leenardo, dilanjutkan dengan sambutan dan khotbah oleh Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham. Doa bersama dipimpin langsung oleh Pdt. Satrya, Pdt. Elisabeth M. Manik, Pdt. Dora Kansil dan Pdm. Samuel M. Tampoli. Mereka berdoa bagi bangsa Indonesia dan agar terjadi revival di seluruh dunia juga berdoa bagi kondisi dunia saat ini.

Dalam sambutannya, Ketum mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang hadir saat itu. Menurutnya, saat ini adalah waktu bagi semua umat Tuhan untuk berdoa, karena Allah mendengar dan mengabulkan doa-doa kita. Sekum juga dalam sambutannya mengatakan, BPP melakukan gerakan doa,  karena rindu akan lawatan Tuhan. Dengan memakai pola Nabi Elia yaitu, membangun Mesbah bagi Tuhan dari berbagai suku. “Ketika Tuhan turun, Dia dapati sesuatu untuk Dia mendarat di sana,” ujar Sekum. Dilanjutkannya, berdoa memerlukan daya tahan yang tinggi. Berharap agar di semua BPD hingga ke gereja lokal GBI untuk berani berkorban atau ‘bayar harga’ seperti yang dilakukan Elia pada zamannya. Hal ini dilakukan demi generasi penerus kita di masa yang akan datang.

Perang Salah Satu Tanda Akhir Zaman (Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham)

Dalam I Petrus 4:7  “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” Saat  ini, kita melihat adanya perang yang merupakan salah satu tanda dari akhir zaman. Karena Yesus berkata dalam Matius 24:6,7 “Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah, sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat.”

Jika saat ini kita mendengar adanya konflik di berbagai belahan dunia, itu merupakan salah satu tanda kedatangan Kristus semakin dekat. Kita tidak tahu kapan Tuhan datang kepada seluruh umat manusia, baik secara global maupun personal.    

Beberapa hari lalu saya berkhotbah dan dimasukkan ke youtube dengan judul “Eskalasi Geopolitik dan Akhir Zaman”. Namun ada netizen yang mengatakan, “jangan kait-kaitkan perang dengan akhir zaman, itu masalah politik bukan nubuat firman Tuhan.” Saya bukan ahli politik atau komentator peperangan luar negeeri, tetapi seorang Hamba Tuhan. Saya membaca dalam Matius 24:6-7, bukankah ayat ini merupakan peringatan dari Tuhan Yesus. Ada juga yang bertanya, “bukankah perang sudah pernah terjadi bahkan Perang Dunia (PD) I sudah terjadi th. 1914 dan Perang Dunia II sudah terjadi th. 1939-1945, tapi Tuhan belum datang juga?”.

Yesus pernah berkata dalam Matius 24:32-33 “Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.” Berarti, jika kita melihat pohon ara yang merupakan gambaran Israel mulai muncul kembali, kita tahu kedatangan Tuhan sangat singkat. Karena Matius 24:33 mengatakan “Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.”

Mengapa bukan PD I dan PD II yang memenuhi nubuatan ini? Karena Israel belum berkumpul menjadi sebuah negara, nanti pada 14 Mei 1948, Israel muncul kembali sebagai negara setelah mengalami diaspora hampir 2.000 tahun ke seluruh dunia. Dan Tuhan berkata, “kalau pohon ara bertunas, kedatangan-Ku semakin dekat.”

Zaman akhir sebenarnya ada satu rentang waktu yang sangat panjang yaitu, pada kedatangan Yesus I di Bethlehem hingga II di Bukit Zaitan, ini disebut zaman akhir. Tapi, saya percaya kita sekarang sedang berada pada akhir dari akhir zaman. Bagaimana sikap kita? Alkitab berkata, “kesudahan segala sesuatu sudah dekat, karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang.”  Yang Tuhan minta, bukan takut atau panik tetapi menguasai diri, pikiran dan perasaan yang terkontrol dan menjadi tenang, jangan takut.

Di sosial media ada seruan nanti akan ada black out 7 hari kegelapan, chaos, dsb. sehingga membuat beberapa orang mulai takut, mereka mencoba untuk mengambil uangnya dari bank, membeli makanan dan menumpuknya di rumah. Menurut saya, jika banyak orang yang hidupnya dalam ketakutan seperti itu, maka di bank akan terjadi rush money dan rush supermarket, kondisi ini akan chaos. Tuhan tidak memberikan roh ketakutan tetapi Tuhan inginkan agar kita berjaga-jaga (secara rohani) dimulai dari sikap hati yang menguasai diri dan jadilah lebih tenang.

Mengapa Tuhan mengizinkan semuanya terjadi? Supaya kita tidak terlalu betah di muka bumi ini, semuanya akan digoncangkan bukan hanya Bumi tetapi langit juga akan goncang. Supaya semua orang tahu, hanya satu yang tidak tergoncangkan yaitu, Kerajaan Allah, dimana Kristus tinggal di dalam Dia. Karena itu, ada seruan yang Tuhan perintahkan kepada kita, “kamu akan mendengar deru perang, dsb, tetapi janganlah kamu gelisah, sebab semuanya harus terjadi.” Apa yang telah difirmankan, pasti terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Mengapa? Karena ada beberapa peristiwa yang harus terjadi sebelum Yesus datang ke Bumi yaitu, salah satu yang kita rindukan adalah Kristus harus tinggal di Sorga sampai pemulihan segala sesuatu yaitu, revival besar, itu yang kita nantikan.

Revival terjadi pada saat goncangan, matahari akan menjadi gelap, bulan akan menjadi darah. Beberapa hari yang lalu blood moon (bulan merah darah) bertepatan dengan Minggu atau Hari Raya Purim (hari peringatan kemenangan orang Yahudi di Persia -sekarang Iran- karena mereka akan dibinasakan oleh Haman, tetapi terjadi pembalikan dimana Tuhan membinasakan orang-orang yang jahat di zaman ribuan tahun lalu. Dan, di masa kini terjadi kembali Purim seperti di zaman Esther.  

“Menguasai diri jadi tenang supaya kamu dapat berdoa” Hal inilah yang harus kita lakukan supaya dengan berdoa kita akan memenangkan peperangan di alam roh dan kemenangan di alam roh akan menentukan kemenangan di alam nyata. Revival yang kita rindukan mustahil terjadi tanpa doa yang sungguh-sungguh. Doa bukan sekadar meminta berkat, tetapi doa penyerahan dan penyembahan kepada Tuhan.

Ajakan Ketua Umum BPP GBI

Marilah kita semua bersungguh-sungguh meningkatkan doa secara onsite/online baik di BPD-BPD hingga ke semua gereja lokal GBI, juga mengajak teman-teman dari sinode gereja lain. Agar Tuhan  memberikan kelegaan, revival dan tuaian raya terbesar terjadi, sebelum pintu anugerah ditutup. Saya percaya, masih ada kesempatan untuk kita menuai jiwa-jiwa di tengah tekanan.

Sikap kita di masa yang penuh tantangan, bersungguh hati mendoakan Indonesia karena dolar sudah tembus di Rp 17.000 dan harga-harga mulai merayap naik, resesi tampaknya di depan mata. Dan, biasanya selalu ada kelompok yang menggonjang-ganjing pemerintah untuk menggantikan pemerintah yang sudah terpilih secara sah, supaya terjadi kudeta atau apapun. Hal ini kita batalkan dalam Nama Yesus, kita tolak semua hal yang bisa merusuhkan bangsa kita. Kemenangan di alam roh menentukan kemenangan di alam nyata.

Di hari-hari terakhir ini, kita harus memiliki roh martir bukan roh nyaman. Orang dunia saat ini inginnya menjadi nyaman, khotbah-khotbah juga membuat nyaman kemudian Teologi kemakmuran, merembes masuk ke berbagai tempat. Saya percaya, kita bisa menanggalkan kenyamanan duniawi dan memminta agar Tuhan memberikan roh spirit martir kepada kita, tetapi bukan mencari mati. Kita meminta, “Tuhan aku percaya Engkau melindungi, memberkati, tetapi seandainya tidak, aku akan tetap setia kepada-Mu”. Seperti Daniel yang dimasukan ke dalam gua Singa juga Sadrach, Mesach dan Abednego yang dimasukan ke perapian. Seperti Yesus berkata, “kalau boleh cawan ini berlalu, tetapi jika aku harus meminumnya biarlah kehendak-Mu yang terjadi”.

Menutup khotbahnya, Pdt. Rubin Adi mengajak seluruh peserta agar terus meningkatkan doa, berdoa untuk Gerakan Penginjilan, berdoa puasa hingga jawaban doa terjadi. (deb).