MELAKUKAN KEBENARAN
  • Post category:Artikel

Pdm. Hiruniko Ruben

1 Yohanes 3:7-10

Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah (1 Yohanes 3:9)

Menurut para ahli, ketika kita melakukan suatu tindakan pertama kali lalu kemudian tindakan itu dilakukan berulang kali setidaknya tujuh kali, maka tindakan itu akan menjadi kebiasaan. Dan ketika kebiasaan itu terus dibiarkan tanpa ada bantahan atau dilakukan dengan sukarela, maka kemudian kebiasaan itu dapat menjadi sifat atau karakter seseorang. Seorang perampok bank pastilah dimulai dari tindakan pencurian kecil-kecilan, seperti mencuri uang kembalian, uang kantor, dll. Jika diaplikasikan pada hal positif juga berlaku demikian, seorang pendeta yang penuh kuasa dapat menyembuhkan dan membangkitkan orang mati, pasti dimulai dari tindakan doa dan kesukaannya terhadap Firman Tuhan dalam kesehariannya. 

Melalui pembacaan kita, rasul Yohanes menegaskan bahwa status kita adalah sebagai anak Allah. Ini berarti kita lahir dari Allah. Ada benih Ilahi dalam kehidupan kita. Idealnya hidup orang percaya berada dalam realitas kerajaan Allah dimana ada kekudusan dan kemuliaan Allah. Tetapi kenyataanya banyak orang yang mengaku sebagai orang percaya, sebagai anak Tuhan tetapi masih hidup dalam dosa. Ketika mereka berdosa, mereka sadar lalu minta pengampunan, tetapi setelah itu kembali lagi melakukan dosa yang sama, hingga akhirnya hati nurani pun mati dan perbuatan dosanya “moving to the next level”. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena dosa itu mengikat dan berkuasa. Ada kuasa intimidasi, kuasa menarik, dan kuasa maut dalam perbuatan dosa. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus kita sadari dan lakukan:

  1. Kita harus menaruh pengharapan kepada Kristus (ayat 3). Hanya Yesus yang sanggup melepaskan kita dari ikatan dosa (1 Petrus 1:18-19). Layaknya seorang yang terjebak lumpur hisap dan tidak bisa melepaskan diri sendiri, karena semakin berusaha bergerak, semakin tenggelam, harus ada pribadi lain yang menariknya keluar. Berharap kepada apapun selain Yesus tidak akan dapat melepaskan kita dari ikatan kuasa dosa. Yesus sanggup karena Dia Tuhan dan pencipta, dan Dia berfirman: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6).
  2. Kita harus melakukan kebenaran (ayat 7). Pengharapan kepada Kristus membawa kita kepada kebenaran dan kemudian kepada pengenalan akan Kristus. Kebenaran itu bersifat mutlak. Tetapi kebenaran bisa disamarkan. Seperti dalam kisah kejatuhan manusia (Kej. 3), Firman Tuhan yang adalah kebenaran disamarkan dengan tipu daya oleh iblis, sehingga manusia akhirnya jatuh dalam kuasa dosa. Berita baiknya adalah kuasa dosa sudah dikalahkan melalui karya penebusan Kristus, sehingga kita dimerdekakan dan dimampukan untuk berbuat benar. Berbuat benar artinya melakukan sesuai dengan Firman Tuhan. Jika kita berdosa, melakukan kebenaran berarti kita datang kepada Tuhan dan minta pengampunan, bukan malah menjauhi persekutuan. Jika kita sudah menerima pengampunan, kebenaran berkata bahwa kita harus menjaga kekudusan. 

Hanya melalui penebusan Kristus lah kita dimerdekakan dari kuasa dosa dan dapat mengenal kebenaran. Hanya dengan mengenal kebenaran lah maka kita dapat menyingkap tipu daya iblis. Oleh sebab itu mari taruh pengharapan kita kepada Kristus saja, dan lakukan kebenaran dalam keadaan baik maupun tidak baik. Ketika kita biasakan berbuat kebenaran, maka kita akan mencapai level sanggup untuk tidak lagi berbuat dosa. 

Inilah tandanya kita anak-anak Allah yang lahir dari Allah, bahwa kita berbuat kebenaran 

Bahan pendalaman:

  1. Apa yang menjadi pembeda dari anak-anak Allah dengan anak-anak Iblis?
  2. Apa yang dimaksud dengan melakukan kebenaran menurut pembacaan ini?