MENGARAH PADA TUJUAN YANG BENAR
  • Post category:Artikel

 Pdt. Joel Manalu, MTh

Filipi 3:12-16

Filipi 3:13-14,  “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus”.

Hidup adalah sebuah perjalanan. Jalan yang kita pilih akan membawa kita kepada akhir dari perjalanan itu. Perjalanan akan membawa kita sampai kepada suatu tujuan, jalan yang lurus belum tentu membawa seseorang pada tujuan yang tepat. Amsal 16:25 berkata: “Banyak jalan yang disangka orang lurus tapi ujungnya maut (Amsal 16:25. Ada jalan yang kelihatannya lurus, tapi akhirnya jalan itu menuju maut (BIS). Kerinduan Tuhan supaya kita mengarahkan hidup kepada tujuan yang benar. Setiap orang percaya bertanggungjawab dalam  mengarahkan “kemudi” kehidupan mereka sendiri. Mau diarahkan kepada tujuan yang benar atau salah tergantung pilihan masing-masing. 

Karena itulah Rasul Paulus berkata mengarahkan diri dan berlari-lari. Hal ini menunjukkan suatu usaha atau perjuangan ada pada jalan yang benar yang tentu akan membawa kepada tujuan yang benar juga. Harus diingat bahwa kita ini ada memang untuk sebuah tujuan, tujuan itu sudah dibuat oleh sang pencipta. Dalam Efesus 2:10 dikatakan “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10). Jadi Tuhan mau kita hidup pada tujuan yang benar yang disiapkan Allah bagi kita. Apa tujuan  tersebut?

Pertama, untuk  memuliakan Tuhan.  “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31). Pelayanan, pekerjaan, materi, keluarga dan apapun yang kita miliki semuanya harus dipakai untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk kemuliaan dunia atau diri sendiri. 

Kedua, berdampak atau jadi berkat bagi orang lain. Panggilan kita sebagai garam dan terang dunia harus terus nyata sebagai orang percaya. Dunia ini semakin dipenuhi oleh manusia-manusia yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak mau memikul beban orang lain. Mereka beranggapan untuk apa memikirkan orang lain sementara diri sendiri juga penuh dengan beban, atau dengan alasan aku tidak punya sesuatu yang bisa menolong orang lain, dan lain sebagainya. Padahal apapun bisa dipakai Tuhan dari hidup kita untuk memberkati orang-orang yang ada disekitar kita. Lihat seorang anak perempuan pelayan istri Naaman memberkati Naaman sehingga mengalami kesembuhan dari kustanya hanya dengan sebuah informasi tentang Nabi Elisa yang dapat menyembuhkan penyakitnya (2 Raja-Raja 5). Yusuf dipenjara menjadi jawaban atas mimpi juru minum dan juru roti Firaun yang membingungkan mereka. Kalau kita mau menjadi berkat Tuhan pasti memfasilitasi kita dengan hal-hal yang mungkin sering kita abaikan, informasi, nasehat,  jalan keluar dari masalah dan dengan cara-cara yang lainnya. 

Tujuan yang ketiga adalah, menjadi serupa dengan Kristus. Kita harus terus mau dibentuk menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus. Kita harus terus berjuang dari anak-anak gampangan menjadi anak-anak perjanjian ((Ibrani 12:1-2, 5-8). Karena itulah Tuhan memakai orang-orang, masa-masa sulit, masalah-masalah untuk memproses kehidupan kita sehingga semakin hari semakin menyerupai Kristus. Kalau ketiga hal ini terus menjadi tujuan hidup orang percaya, maka kelak diakhir hidupnya dapat berkata seperti rasul Paulus, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman” (2 Timotius 4:7).

Jika Tujuan hidupmu benar maka benarlah perbuatanmu

Bahan pendalaman:

  1. Apa saja tujuan hidup kita menurut perikop ini?
  2. Mengapa mempunyai tujuan yang benar itu penting dalam hidup kita?