Menurut Kesanggupannya
  • Post category:Artikel

Pdm. Hiruniko R. Siregar

Matius 25:14-15

Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat (Matius 25:15)

Dalam teks terjemahan LAI terdapat kalimat “sebab hal kerajaan Surga sama seperti…” (25:14). Namun di dalam teks bahasa aslinya tidak ada kata “hal kerajaan Surga,” bagian tersebut ditambahkan karena penafsiran LAI terhadap hubungan antara perumpamaan gadis-gadis bijaksana dan bodoh dengan perumpamaan tentang talenta. Hal ini didukung juga oleh kata sambung “sebab/ γαρ” (baca: gar) pada awal ayat 14 untuk menunjukkan kesinambungan cerita. Tetapi kedua perumpamaan bukanlah satu kesatuan (satu ilustrasi) melainkan 2 ilustrasi berbeda yang masih memiliki tema yang sama. Sehingga sama seperti perumpamaan sebelumnya maka perumpamaan tentang talenta merupakan salah satu perumpamaan yang menganalogikan hal kerajaan surga dalam konteks akhir jaman.

Kerajaan Surga diperbandingkan dengan seseorang yang akan pergi melakukan perjalanan. Ia memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan kepada mereka hartanya kepada mereka. Harta tersebut diberikan dalam satuan talenta. Masing-masing 5, 2 dan 1 talenta. Talenta bukanlah suatu satuan mata uang melainkan satuan berat atau timbangan. Talenta adalah ukuran timbangan yang setara dengan 34 kg. Satu talenta emas tentu saja berbeda nilainya dengan satu talenta perak, jadi nilainya sangat tergantung pada jenis logam apa yang ditimbang tersebut. Beberapa penafsir memperkirakan dalam konteks ini jumlah 5, 2 dan 1 talenta itu sama dengan 50.000, 20.000 dan 10.000 dinar. Nilai terendah (1 talenta) dari uang yang dipercayakan tuan itu kepada hamba-hambanya sama dengan sejumlah uang yang diperoleh dari hasil kerja selama 10.000 hari. Jika upah kerja sehari sekarang ini dianggap Rp. 50.000 maka nilai 1 talenta sama dengan Rp. 500.000.000 (½ Miliar). Suatu jumlah angka yang tidak sedikit untuk memulai suatu usaha.

Harta tersebut tidak diberikan tetapi hanya dipercayakan (παρέδωκεν dari verb παραδίδωμι= menyerahkan, mempercayakan) untuk dikerjakan. Jumlah yang berbeda ini sebenarnya membawa pesan yang cukup kuat dalam keseluruhan perumpamaan. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu. Hal ini juga berarti bahwa kepada ketiganya diberikan jenis yang sama, tetapi berbeda ukuran atau jumlah. Ini bisa berarti bahwa kepada setiap kita dikaruniakan berbagai hal yang sama, tetapi berbeda dalam ukuran atau jumlah, sesuai dengan kesanggupan kita. Jadi ketiga hamba tadi semua memiliki, tidak ada yang tidak memiliki, namun jumlahnya berbeda.

Mengapa masing-masing hamba tidak diberikan jumlah yang sama, bukankah memberikan jumlah yang sama lebih berkesan adil dari pada berbeda-beda? Kalimat kunci yang memberikan petunjuk bagi masalah ini adalah “masing-masing menurut kesanggupannya.” Ternyata tuan tersebut mengenal masing-masing hamba dan ia mempercayakan talentanya, yakni hartanya sendiri, dengan tujuan agar hamba-hambanya mengelola harta yang dipercayakannya tersebut. Jika tujuannya adalah mengelola maka yang dipercayakan juga harus sesuai dengan kemampuan hamba-hamba itu untuk mengelola. Jumlah talenta yang diberikan adalah manifestasi dari kapasitas hamba-hamba tuan itu untuk mengelola hartanya.

Konsep talenta ini seharusnya membuat orang-orang percaya tidak saling cemburu karena beberapa orang memiliki banyak sementara yang lain sedikit. Bagimanapun Tuhan memberi yang terbaik dalam kehidupan kita. Tuhan selalu memberikan karunia/ kesempatan berdasarkan kemampuan orang tersebut untuk mengerjakannya dengan baik. Oleh karena itu orang yang dipercayakan banyak harus bekerja lebih keras dan orang-orang yang dipercayakan hanya sedikit tidak boleh merasa diri kecil. Setiap orang memiliki bagiannya sendiri-sendiri karena itu setiap orang percaya harus menggumulkan apa yang menjadi bagiannya dan mengerjakannya dengan setia sampai waktu yang dipercayakan itu selesai.

Keadilan Tuhan ditunjukkan dengan memberi sesuai dengan kesanggupan masing-masing orang.

Pertanyaan:

  1. Mengapa kepada tiap hamba diberikan talenta yang berbeda jumlahnya?
  2. Mengapa kita tidak boleh iri/ cemburu terhadap orang lain menurut pembacaan ini?