FLORES – Bantuan Tahap II Bethel Peduli diberikan kepada warga korban bencana di Manggarai Timur, Flores, NTT. Bantuan yang diberikan berupa bakti sosial (pembagian sembako, pelayanan medis dan trauma healing) tepatnya di Dusun Watu Hedok, Desa Satar Punda Barat, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Flores (15/9/2026). Dalam menyalurkan bantuan, Tim BP bekerja sama dengan Pdt. Yunus Timu selaku Ketua BPW GBI Flores Bagian Barat.
Perjalanan Menuju Lokasi Menempuh Jalur Berat




Menurut laporan Tim Bethel Peduli (BP) saat tiba di Labuan Bajo, masih ada gempa susulan magnitude 7.7 (14/9/2026) dimana warga yang telah merasa aman harus kembali membuat tenda-tenda mandiri.
Untuk menuju Lokasi gempa, Tim BP menempuh perjalanan sekitar 4.5 jam. Dari jalan utama harus melewati akses jalan yang rusak, berbatu dan sebagian jalan berada di tebing/jurang yang cukup dalam, sehingga Tim BP dalam melanjutkan perjalanan harus menggunakan dump truck serta sepeda motor.
Kehadiran Tim BP mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Baksos yang berlanggsung (15/9) tersebut, diawali dengan Sosialisasi Tujuan Pelayanan Bethel Peduli oleh Pdt. Yunus dan sambutan oleh Kabiro Pelmas Departemen Pelmas BPP GBI, Pdt. Didimus Fingkreuw sekaligus membuka kegiatan.
Pelayanan Kesehatan
Pengobatan gratis diberikan kepada 171 pasien, dilayani oleh 2 dokter (dr. Suma dan dr. Jaya), 2 apoteker (Lasma dan Amos). Juga diberikan obat sesuai kebutuhan masyarakat dari Departemen Pelmas BPP GBI.



Pelayanan Sosial
Pelayanan sosial diberikan kepada masyakat setempat berupa pemberian 100 paket sembako, susu kotak untuk anak-anak, pakaian layak pakai, popok/pampers. Juga bantuan trauma healing singkat dan kebutuhan bagi ibu-ibu/perempuan. Seluruh rangkaian kegiatan mendapat sambutan sangat baik dari masyakat setempat.
Infrastruktur Yang Belum Menjangkau Daerah Terpencil
Ketua Pelmas BPD NTT, Pdt. Sandy Matiar menyampaikan, masyarakat Dusun Watu Hedok karena berada di daerah pedalaman Flores sehingga menghadapi persoalan utama seperti terbatasnya infrastruktur Listrik (tidak ada jaringan PLN), kesehatan, komunikasi dan khususnya air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, masyarakat harus mengambilnya di tebing gunung dengan jarak sekitar 700 meter dari pemukiman. Sementara, untuk kebutuhan mandi dan mencuci, masyarakat menggunakan air dari cekdam/bendungan dengan jarak sekitar 300 meter dari pemukiman. Karena itu, ketika terjadi gempa bumi, membuat kondisi warga semakin sulit.


Menyikapi kondisi ini, menjadi bahan pertimbangan dan tindak lanjut pelayanan bagi Pelmas BPD NTT GBI, khususnya pemulihan dan peningkatan kualitas masyarakat di daerah terpencil yang terdampak bencana. (deb/ls)
